Tuesday, June 18, 2013

cerpen (jadul)



Pada suatu masa

Degub-degub jantung bersatu dengan kerikil tajam yang bercengkerama dengan pasir yang berbuih. Jejak kaki kembali menapaki jalanan setapak. Ah, debu kemarau memang selalu menyulitkan perjalanan. Cericit burung sedikit meneduhkan perasaan yang mulai memanas demikian juga batang-batang kayu yang mulai melapuk melintas di setiap jalan setapak. Wajah-wajah kelelahan terbayang jelas di keenam raut yang dengan pongah berusaha menunjukkan identitas dirinya. Berbeda dengan mereka tampak seraut wajah yang sedikit acuh tak acuh menghalau semua kepenatan. Pandangannya jauh entah kemana, ke suatu masa...masa yang telah membuatnya terperangkap dalam kehidupan yang seperti yang sedang dijalaninya saat ini. Masa kecilnya...
“Lintang!”panggil Dania diantara kelelahan mereka. Lintang mendongakkan kepalanya. Dania melanjutkan pembicaraan,”sedari tadi kuperhatikan kau nampak lebih banyak melamun, apa yang kau pikirkan?”Lintang hanya mengedikkan bahunya. Enggan merespon. Sementara itu teman-temannya yang lain mencoba menenggelamkan diri dalam kelelahan. Ya, perjalanan ini memang cukup syarat.
Tim Putri dari Mahasiswa Pecinta Alam kampus Lintang berusaha menunjukkan kredibilitasnya setelah mati-matian mereka mempertahankan proposal yang dianggap hanya main-main oleh rekan-rekannya. Sampai saat ini tim putri memang belum begitu mendapat kepercayaan.
Selangkah demi selangkah mereka kembali merayap diantara pohonan yang sempat merintangi langkah mereka. Hari ini tujuan mereka satu, Ranukumbolo. Akhirnya perjalanan yang memakan waktu setengah hari terlewati juga. Tampak dari jauh danau Ranukumbolo menawarkan senyuman dalam dekapan sang bagaskara. Tertatih-tatih mereka menuju shelter dan melepaskan kepenatan seharian. Lintang berjalan pelan membasuh mukanya, mengambil air wudlu, tak lupa lintang memeluk jiwanya berkencan dengan Tuhan. Ya, hanya Lintang.
Malam kian merambat. Bulan bersinar dengan sedikit manja. Ketika semua sudah tertidur perlahan Lintang keluar. Udara dingin menusuk tulang pada suhu 9°C. Langkahnya pelan menuju tepian Ranukumbolo. Lintang duduk dalam diam. Ingatannya melayang kembali. Masa dimana ia begitu dekat dengan alam. Sering sekali Lintang bermain di hutan dekat rumahnya dengan kawan kecilnya. Tapi semua itu tinggal khayalan setelah hutan itu di buka dijadikan hutan produksi hutan itu menjadi tidak alami lagi. Bersamaan dengan itu sahabatnya juga pergi, entah kemana.
“Sendiri?!”sebuah suara telah membuyarkan lamunannya. Lintang mengernyitkan dahinya merasa tak mengenal makhluk asing disampingnya.”Awan! kenalkan, aku dari Jakarta. Sorry kalau telah mengganggu kamu. Tak baik kau sendiri tanpa kawan.” Ujar cowok yang mengaku bernama Awan tadi. Lintang tersenyum samar. Geli rasanya, karena selama ini tak pernah ada yang peduli dengan apa yang dilakukannya.
“Kau salah, Wan. Aku merasa tidak sendiri, ada banyak hal yang membuat aku tidak sendiri.” Ujar Lintang.”Kau aneh, kuperhatikan dari tadi kau lebih banyak diam dibanding teman-temanmu,”sambung Awan. “itu hanya perasaanmu saja. Sudahlah, sudah malam aku mau tidur, bye,”pamit Lintang. “Eh, tunggu!”seru Awan. “Ada apa lagi?” balas Lintang. “Boleh nggak aku tahu namamu?” tanya Awan. Lintang tersenyum sambil melambaikan tangan, ia menjawab,”besok pagi, Wan. I promise.”
Awan menggelengkan kepala”gadis aneh” bisik hatinya. Malam kain merambat, membuaikan setiap insan yang tengah terlelap.
Pagi ini di awali dengan rendezvous Lintang di atas sajadah. Ketika teman-temannya asyik bermain-main di tepian Ranukumbolo. Lintang lebih suka bermalas-malasan berjemur di bawah mentari pagi. Ah, serasa di Los Angeles bisik hatinya.
“Lintang!”panggil teman-temannya.”tak ingin kau kesini?” Lintang tertawa, lalu “aku tadi sudah, waktu ambil air wudlu,” ujarnya. Teman-temannya menggelengkan kepala melihat keacuhannya.
“Aku mau menagih janji yang kau tawarkan tadi malam.”ujar Awan yang tiba-tiba sudah adadisampingnya. Lintang mengernyitkan dahi pura-pura lupa untuk kemudian tertawa geli,”O o, masih ingat juga.”
“Karena aku yakin gadis kecilku tak akan pernah mengingkarinya.”balas Awan sambil tertawa. Seperti sosok di masa laluku batin Lintang.
“Aku tahu kalau kau sebenarnya sudah tahu namaku, tapi tak mengapa, panggil saja aku Lintang, just Lintang. Is there any question?”kata Lintang dengan ekspresi meledek. “Dasar gadis kecilku yang aneh, padahal baru semalam aku bertemu denganmu, tapi rasanya aku sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya,”ujar Awan. “Itu tandanya memang aku gadis yang menarik,”gurau Lintang. Awan mencibir pura-pura sewot. Ah, canda-canda yang sempat mengendorkan ketegangan sampai waktu untuk kembali melanjutkan perjalanan tiba. Itu sepetik kenangan yang telah terukir disatu sudut ruang batinnya.
Kini dihadapannya tampak Oro-oro Ombo menghantar langkah kecil kaki mereka, melewati padang rumput yang tingginya melebihi tinggi tubuh kecil Lintang. Sementara itu, ditepian Ranukumbolo tampak Awan sedang terpekur. Ada yang tengah dipikirkan. Dicky kawannya mendekatinya dan bertanya,” sepertinya ada yang menggelitik hatimu, Wan. Apa, siapa dan mengapa?”
Awan mendongakkan kepala,”entahlah Dick, sepertinya aku tak tega melepas Lintang. Aku merasa aku telah begitu lama mengenalnya, lama lama sekali. Pada suatu masa dimana aku mengingatnya samar-samar. “mungkin kau memang pernah mengenalnya,”ujar Dicky,”atau masa kecilmu mungkin.”sambungnya lagi.
Awan terdiam, lalu katanya,”entahlah, mungkin juga. Sudahlah kita teruskan saja perjalanan ini, jangan sampai rencana kita kali ini gagal, malu dong sama mereka yang cewek-cewek semua.”
Kembali dalam perjalanan Lintang dan teman-temannya yang semakin jauh meninggalkan Oro-oro Ombo dan terus merayap menuju Kalimati. Samar-samar Puncak Mahameru tampak mengepulkan asap dari muntahan perutnya. Indah dan agung. Tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata tapi mampu untuk dirasakan.
Shelter Kalimati didepan mata. Dibelakangnya hutan pinus semakin membangkitkan perasaan rindu Lintang pada masa kecilnya. Didepannya hamparan rumput menawarkan harapan. Seperti dalam kisah “little house on the praire”. Semilir angin hutan pinus membawa mata jadi terkantuk-kantuk.
“Lintang” panggil Ari. Lintang menoleh, tersenyum melihat tingkah Ari yang sanggup menghilangkan luka lara dalam sekejap. “aku merasa ada yang tidak beres denganmu.” Lintang terperanjat. “sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Apa sebenarnya yang kau pikirkan?” tanya Ari tiba-tiba. Lintang mengedikkan bahunya, lalu jawabnya,”itu hanya perasaanmu saja, Ri.”
“Oh no! Kau bisa saja berbohong pada orang lain tapi tidak padaku. Ingat, kita bersahabat bukan sehari dua hari, sudah hampir 2 tahun,”kata Ari.
Lintang menghela nafas,”kau memang benar. Kau ingat Awan kan? Yang ku kenalkan padamu tadi pagi.” Ari mengiyakan. “tahu tidak? Aku seperti terbawa dalam ingatan masa kecilku, tapi tampak samar sekali.” Kata Lintang. “lalu apa hubungannya?”tanya Ari. “aku sendiri tidak tahu, Ri. Hanya saja ketika aku mengenalnya seperti aku sudah mengenal dia lama...sekali, pada suatu masa.” Ujar Lintang. “Kau semakin membuatku bingung.” Canda Ari. “jangankan dirimu, Ri. Aku sendiri bingung.” Balas Lintang.
Masa kecil itu begitu indah. Anak laki-laki itu selalu memanggil Lintang dengan sebutan gadis kecilku. Dia suka sekali menggoda Lintang sampai menangis. Cengeng memang. Tapi dia begitu lain. Dia suka sekali mengajak Lintang bermain-main dihutan, mengajak Lintang ke bukit,dan mengenalkan Lintang pada alam yang begitu indah. Itulah pertama kalinya Lintang mencintai alam lingkungannya. Sampai akhirnya dia pergi entah kemana, dan seiring perjalanan waktu bayangan itu menghilang dari alam bawah sadarnya.
Sampai ketika malam itu tepatnya tadi malam saat Lintang bertemu dengan Awan. Tiba-tiba saja Lintang teringat pada masa lalunya. Apalagi ketika Awan memanggilnya dngan panggilan “gadis kecilku” Ah....
“Hey Nona manis. Kau pending dulu lamunanmu, let’s the adventurer.” Seru Dania membuyarkan lamunannya. Perjalanan ini memang yang utama. Arcopodo, dimana engkau berada? Pertanyaan itulah yang akan mereka cari jawabannya. Canda tawa dalam perjalanan telah membuat Lintang terhibur. Tepiskan bayangan itu, puncak Mahameru semakin dekat dengan rengkuhannya.
Pukul 02.00 dinihari. Dalam dingin 2°C, sedikit demi sedikit kaki melangkah mencumbu pasir menapak Puncak Mahameru. Terima kasih Tuhan. Asap mengepul keluar dari kawah. Sujud sukur pada yang telah memberi kuasa. Matahari turun perlahan. Mereka pun turun kembali setelah puas mengucap salam cinta.
Itu adalah kisah 2 tahun yang lalu. Sekarang disini, dikota yang dingin dan sepi. Lintang membuka kembali memorinya 2 tahun yang lalu tanpa sengaja. Ketika dia bertemu kembali dengan Awan. Pertemuan yang tidak disengaja. Ketika mobil yang membawa Lintang mogok dipertigaan Parung Kuda. Sekelompok anak muda habis mendaki Gunung Salak menawarkan bantuan untuk memperbaiki. Awanlah yang lebih dahulu mengenali “gadis kecil” yang semakin terhimpit beban hidup.
Siang itu, Lintang tengah asyik sendiri di teras hotel tempat ia menginap. Sebenarnya ini bukan senang-senang. Tetapi terapi bagi Lintang yang sudah lama sakit. Sakit yang disembunyikan untuk menutupi kelemahan yang dideritanya. Hawa dingin Sukabumi memang cocok untuk terapi.
“Lintang!”
Lintang terhenyak. Mata Lintang terbelalak ketika tahu siapa yang datang. Awan melangkah dengan ringan mendekati Lintang yang sedang duduk ditepi kolam. Angin dingin menggoda lagi. Memang, kemarin Awan bertanya tempat Lintang tinggal. “Awan?” bisik Lintang setengah tak percaya. Ya Tuhan, mengapa dia begitu dekat denganku. Aku merasakan hal lain, bukan cinta bukan tapi lebih dari itu rasa sayang yang tak terdefinisikan batin Lintang.
“Lintang!”panggil Awan lagi. “Apa kau tak pernah merasa bagaimana kita begitu dekat? Gadis kecilku di waktu lalu. Lama....lama sekali. Samar. Namun aku yakin, segalanya terungkap. Ternyata benar kau gadis kecilku itu. Lintang, apa kau lupa padaku?” tanya Awan.
Tak perlu jawaban kini. Karena semua sudah jelas. Lintang menangis. Tangis bahagia, kini dia yakin kebahagiaan itu sudah datang. Ya, abang kecilnya telah kembali, menghadiahkan harapan pasti. Kerinduan yang selama ini menggerogoti hatinya, terhapus....

(edisi 28.09.00, thanks for your inspiration my Mapala friends)

No comments:

Post a Comment