Thursday, March 30, 2017

Red Acre Cabbage Salad

salad kubis merah (foto koleksi pribadi)
Kali ini saya sedang tertarik dengan sesi makanan. Kalau sebelumnya saya bagikan resep sayur bening kelor, kali ini saya menggunakan kubis merah sebagai bahan sajiannya. mentah tanpa perlu di masak, tapi harus dibersihkan sebersih-bersihnya. Bagi yang suka raw food menu ini mungkin cocok. Bagi yang suka lalapan bisa jadi ini salah satu menu alternatif yang bisa dicoba. Bagi yang belum pernah mencoba ada baiknya sesekali mencobanya hehe....

Red Acre Cabbage atau kubis merah berwarna merah keunguan, sehingga ada juga yang menyebutnya sebagai kubis ungu. Lepas dari apa namanya. kubis merah mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Diantaranya adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh, membersihkan tubuh dan membantu pencernaan, anti aging, anti kanker, menormalkan tekanan darah, mendukung fungsi syaraf dan otak, menjaga berat badan dan sebagainya.

Sekarang, saya mau berbagi resep membuat salad segar kubis merah.

Bahan yang dibutuhkan
1 (satu) buah kubis merah ukuran sedang iris tipis memanjang


Bumbu
Cabe rawit segar 5 biji iris halus
Bawang merah 10 siung iris halus
Serai muda 3 batang iris tipis
Daun jeruk purut 2 lembar iris tipis
6 buah tomat buang bijinya potong-potong
garam secukupnya

Cara penyajian

Semua bumbu diaduk menjadi satu, kemudian letakkan kubis merah diatas piring sajikan dengan bumbu tersebut, aduk dan siap dihidangkan.

Catatan: jika ingin segar dingin masukkan ke dalam kulkas terlebih dahulu. Bisa juga dikombinasikan dengan sayuran segar lainnya.

Simpel sekali kan? Bisa dimakan dengan daging asap, daging panggang, telur rebus, ikan asap, ikan panggang, kerupuk dsb.
sumber gambar diambil dari internet


Thursday, December 22, 2016

Sayur Daun Kelor? Hmmm..segerrrrr

Tetiba saya rindu dengan masakan yang satu ini. Bukan masakan mewah yang mahal harganya dengan rasa yang selangit. Bukan pula masakan yang mudah di dapat di warung-warung pinggir jalan. Tapi masakan ini selalu punya rasa tersendiri dan cita rasa tersendiri. Dan bahkan bagi sebagian orang mungkin asing dengan masakan ini. wah..wah..mulai penasaran ya? Baiklah, sebelum saya menunjukkan masakan apa sebenarnya, saya akan sedikit bercerita tentang darimana saya mengenal masakan ini.

Ibu. Ya...saya mengenal masakan ini saat saya masih kecil dari ibu saya. Dimana masakan ini dulu hanya ibu yang sering memakannya karena anak-anaknya merasa aneh, apa enaknya daun ini di masak. Dan kalau pun mencoba pasti dalam jumlah sedikit, karena selalu tergoda masakan lain yang lebih yummi menurut lidahku waktu itu. Bertahun-tahun kemudian, saat saya sudah berumah tangga. Saya temukan lagi daun ini di halaman depan rumah suami. Bertahun-tahun lamanya saya hanya memangkas tanaman ini tanpa tergoda untuk mencoba memasaknya. Sampai akhirnya saya membaca artikel tentang manfaat daun ini buat kesehatan. Ingatanku melayang pada puluhan tahun silam, saat Ibuku sering memasak daun ini. Saya baru tahu, ooooo...begitulah ibu. Orang desa yang kaya akan ilmu. Kenapa Beliau dulu rutin mengkonsumsi sayur ini.

Akhirnya saya pun mencoba memasak daun ini. cukup sederhana, saya menyebutnya "sayur bening daun kelor". Yuuup...daun yang saya maksud adalah daun kelor. Lengkap dengan sambal terasi dan Teri goreng tepung. Hmmm...nikmatnya. Dan eloknya, anak-anak pun sukaaa sekali ma sayur ini. Paling tidak dua minggu sekali saya memasak sayur ini, tentu tidak semata-mata daun kelor saja. Kadang saya padu dengan daun katuk atau daun bayam. kadang di masak sayur bening, terkadang di bumbu asam. Ah....sama-sama segarnya.


Dan kesukaan pada sayur ini bukan hanya milik saya dan keuarga. Teman kuliah saya di Malang pun ada yang sama-sama menyukainya. Kami kadang tertawa saat ingat kami dipertemukan di Kota ini untuk saling mengenal kesukaan masing-masing. Ah...sederhananya, karena sayur kelor membuat kita bisa tertawa.  Dengan saling berbagi resep ala kami masing-masing.
Hari ini, masih di kost di Kota Malang ini. Kerinduan untuk menyantap menu sayur bening daun kelor kembali menyeruak. Ah, tentunya muskil untuk mendapatkan menu ini di warung-warung atau pun di rumah makan/restoran. Akan tetapi untuk membunuh rindu ini, saya akan berbagi resep dengan kalian. Resep sayur bening daun kelor.

Sayur Bening Daun Kelor

Bahan
Daun kelor
Daun Kelor satu genggam/sesuai selera   
Daun Katuk/Bayam
Air kurang lebih 1 lt

Bumbu
Bawang Merah diris tipis secukupnya
Bawang Putih diriris/digeprek secukupnya
Daun Salam 2 lb
Garam secukupnya

Cara Mambuat
Didihkan air bersama bumbu (kecuali garam), masukkan daun kelor dan daun katuk bersama-sama. setelah setengah matang baru masukkan daun bayam. Setelah semua matang angkat dan taburi garam sesuai dengan selera. Bila suka bisa bubuhkan Bawang merah goreng.
untuk pelengkap sajikan dengan sambal terasi dan teri goreng tepung dan nasi.
Taraaaa...siap di santap di cuaca yang terik.


Thursday, November 24, 2016

"GLEDHEGAN"



Yuuuuuk...daripada ngedumel dengan pemberitaan yang makin gak jelas bener salahnya, kita sejenak menengok masa lalu. Hal yang menyenangkan yang sedikit bisa membuat kita tersenyum tanpa sarat.
Masa tanpa beban masa kanak-kanak, masa anak-anak. Yang sering diingat sih yang menyenangkan Pastinya. Plus permainan-permainan yang sekarang semakin jarang ditemui. Bagi sebagian orang mungkin menganggapnya kuno. But, bagiku permainan ini teramat sangat menarik.
Hmmm....permainan tradisional banyak juga yang menuntut ketangkasan dan kerjasama juga lho.  Asyiknya lagi bisa dilakukan bersama teman-teman. ini nih salah satunya...



G-l-e-d-h-e-g-a-n ......Gledhegan, yups permainan yang bahkan dikampungku sendiri sekarang teramat jarang ditemui. Dan beruntungnya aku, anakku sampai detik ini masih bisa memainkan permainan yang semakin langka ini. Beruntung lagi karena aku mempunyai kakak yang masih mau membuatkan mainan ini buat anak-anak kami. pasti kalian bertanya-tanya, seperti apa ya gledegan itu. He...he...bolehlah di disebut sepeda kayu, atau sepeda bambu atau apalah sebutan di tempat lain.

Gledhegan ini merupakan kendaraan yang terbuat dari komposisi bambu dan kayu. kerangkanya dibuat dari bambu, tempat duduknya bisa dari kayu bisa bambu, dan rodanya terbuat dari batang pohon kelapa yang di potong menyerupai roda. kemudian dirakit membentuk kendaraan siap pakai. kalau masih penasaran lihat di foto yang aku posting ya....

Apa sih menariknya mainan ini.

  1. mainan ini membutuhkan ketangkasan bagi pengendaranya, karena akan lebih mengasyikkan di mainkan di jalan turunan, hal ini karena tidak ada pedal untuk mengayuhnya
  2. mainan  ini mebutuhkan kerjasama, karena jika dimainkan ditempat yang datar maka salah satu anak harus mendorongnya agar mainan ini bisa berjalan, alih-alih menggesekkan dengan kaki kan enak kerjasama bukan?
  3. mainan ini memerlukan kerja keras, karena biasanya anak yang sudah SD akan belajar membuatnya sendiri, sehingga mereka dituntut harus kreatif
  4. mainan  ini membuat anak belajar sabar, bagaimana tidak? untuk membuat sebuah gledegan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, sehingga anak-anak harus menunggu 
  5. mainan  ini murah meriah, hihi.....biasanya sih bikinnya sisa-sisa dari orang tebang pohon kelapa, itu ujung batang gak kepake boleh diminta gratis kok
  6. mainan  ini gak mandang gender lho, boleh buat anak laki maupun perempuan. he...he...he (soalnya dulu aku juga suka banget) 

Nah udah paham kan mainan ini. seperti apa tampilan GLEDHEGAN. Tapi aku yakin, gak semua dari kalian tahu mainan ini. So, aku sih cuma mau nunjukin betapa beragamnya mainan tradisional yang sepertinya sama menariknya dengan permainan anak zaman sekarang (baca: modern). Bisalah untuk sejenak beralih ke permainan tradisional, merasakan sensasi yang berbeda, disaat gadget belum benar-benar menenggelamkan permainan tradisional (ah mungkin ini hanya ketakutan sesaat).

So...ayo ceritakan mana permainan tradisional yang sering kalian mainkan dulu?

Monday, September 26, 2016

Bijak dalam ber "televisi"

Dewasa ini tayangan TV menjadi sebuah 'kebutuhan' bagi sebagian besar masyarakat. Baik tua muda maupun anak-anak. Stasiun TV berlomba-lomba menampilkan acara dengan berbagai nuansa dan segmen pasar. Ada sinetron remaja yang membidik penonton remaja, tayangan reality show, idola-idolaan, tidak hanya idola muda sekarang pun ada tayangan yang digemari generasi tahun 80an seperti tayangan hiburan lagu-lagu kenangan. Anak-anak pun tak luput dari sasaran produsen agar menajdi penggemar setia TV bahkan sekarang ada yang mengklaim bahwa tontonan tertentu bagus untuk perkembangan balita, tapi benarkah kita sebagai penikmat TV sudah cerdas untuk melihat tontonan TV, ataukah kita sudah tepat memberikan waktu buat anak-anak untuk bebas menonton tanpa pengawasan dari orang tua?
Kalau pikir perlulah kita sebagai orang tua harus cerdas untuk memberikan tontonan yang tepat buat anak-anak kita. banyaknya program-program TV yang kurang berpihak buat anak yang membuat kita harus lebih hati-hati dalam memberikan kebebasan bagi anak-anak. sudah saatnya kita selektif dalam memilih acara maupun menentukan waktu kapan yang tepat untuk menonton acara tersebut. Lalu bagaimana kita sebagai orang tua bisa menjadi filter buat anak-anak dalam menentukan tontonan di TV?

Pentingnya membuat kesepakatan waktu dengan anak kapan harus menonton
Suatu ketika mungkin kita terlena dengan batasan waktu dalam menonton. Dengan alasan agar anak tidak rewel TV lah yang kita jadikan pengasuh ideal buat  mereka. Akhirnya anak menjadi tergantung dengan tontonan yang ada TV. So sudah saatnya orang tua memberikan batasan waktu buat mereka. ada baiknya untuk anak balita tidak terlalu sering diajak nonton TV (terkadang malah dihibur dengan tontonan sinetron kesenangan ortunya). jika sejak kecil mereka tidak dibiasakan, dengan sendirinya mereka akan menyesuaikan diri. atau bagi mereka yang sudah bersekolah (semisal SD) buat kesepakatan yang jelas kapan waktu menonton, tentunya yang tidak merugikan waktu belajar anak. INGAT dalam hal ini ortu masih punya otoritas untuk melarang anak-anak jika si anak sudah melebihi batas waktu kesepakatan. Misal dalam sehari menonton hanya selama 2-3 jam hari libur bebas asal tontonan yang sesuai dengan usianya. Beberapa yang lain membuat aturan Senin-Kamis libur total dengan tayangan TV, tapi memberi kesempatan pada hari Jumat-Minggu dan hari libur lainnya.

Orang tua itu model buat anak-anaknya, lho!
Hmmm....saat anak-anak sudah patuh dengan aturan jangan sampai justru orang tua yang melanggarnya. anak-anak sekarang adalah anak-anak yang kritis. Jangan sampai sebagai orangtua kita malah yang 'ditegur' anak berkaitan dengan kesepakatan yang telah dibuat. Disaat anak-anak disuruh belajar ada baiknya kalau kita menemani belajar, bukan malah ditinggal melihat tayangan TV dengan alasan "tanggung, acara lagi seru-serunya" alhasil anak hanya akan melihat tidak konsistennya orang tuanya. Dan bisa mungkin itu akan dijadikan senjata dia disaat si anak melanggar kesepakatan

Selektif dalam memilih program acara
Kalau acara tersebut memang harus dengan bimbingan orang tua (BO) yaa...selayaknya kita mendampinginya. Tidak ada salahnya orangtua belajar lagi mana tayangan yang sesuai umur dan yang bukan. Misal, meskipun tayangan itu bentuknya kartun, akan tetapi tidak semua kartun dibuat untuk usia anak-anak. Disitu biasanya akan tertulis untuk usia berapa. Sebagai contoh tayangan kartun Crayon Sinchan diberikan untuk usia 13 tahun ke atas yaa...ya kasih tahu anak untuk melihat tayangan lainnya yang pas buat mereka. Beberapa acara TV sudah cukup bersahabat buat anak-anak semisal si Bolang. Sementara sebagian besar dari kita beranggapan film kartun ya buat anak-anak.

Luangkan waktu melihat tayangan TV bersama keluarga
Lebih asyik lagi kalau kita bisa melihat peogram acara yang sifatnya umum bisa ditonton semua umur. Misalnya program olahraga, sejarah, petualangan ataupun film anak-anak dll. Disamping untuk mengakrabkan masing-masing anggota keluarga bisa menjadi ajang tanya jawab anak dengan ortu. Ortu bisa sekalian menjelaskan hal-hal yang anak-anak belum paham, atau sebaliknya anak-anak mampu menunjukkkan kemampuan mengambil makna sebuah tontonan kepada aorang tuanya. Sehingga ortu jadi tahu respon anak terhadap sebuah tayangan.

Jadikan TV sebagai media pembelajaran yang tepat 
Beberapa program TV mengajarkan hal-hal baru yang terkadang anak belum mengetahui di dunia realita. Misalnya seperti tayangan tentang petualangan, orang tua bisa mengajak anak menjadikan program tersebut untuk mengenalkan anak suatu tempat, dan saat ada waktu direalisasikan dalam pengalaman yang sebenarnya. Misalnya tayangan tentang pengenalan pantai disuatu tempat, bolehlah orang tua kemudian mengajak anak-anak ke lokasi yang sesungguhnya.

Kenalkan hal-hal lain yang menarik selain TV
Untuk mengurangi ketergantungan anak pada TV ada baiknya orang tua mengenalkan kegiatan lainnya. Misalnya mengenalkan permainan tradisional pada anak, mengajak berolahraga bersama meski cuma dihalaman rumah, sediakan buku-buku yang bagus, atau ajak anak dengan kegiatan baru yang menyenangkan. boleh dicoba seperti camping, hiking, mengunjungi panti asuhan, panti jompo atau sekedar melihat kereta lewat. Dan masih banyak lagi alternatif lain selain tontonan TV.

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya hanya duduk manis didepan TV. Yang diinginkan pasti anak yang ceria dengan segala pengalaman dan pengetahuan sesuai dengan kapasitas anak-anak. Sudah waktunya kita tidak menutup mata dengan pandai-pandai menyeleksi tontonan buat anak dan gunakan waktu seefektif mungkin untuk perkembangan anak. Bijklah dalam menentukan tontonan pada anak dan pilihlah waktu yang tepat sehingga ank tidak kehilangan masa-masa keemasan mereka. Biarkan mereka berkembang sesuai dengan usianya.

Mancing merupakan satu pilihan yang cukup menyenangkan...kan?                      
                                                     Sebait lagu pun bisa membuat anak-anak ceria, gembira bersama dan selalu kompak dengan saudara. Benarkan....?

Sunday, May 29, 2016

Biarkan mereka berkembang sesuai dengan usianya...

Aku menulis ini dengan derai air mata, merasakan betapa rindunya aku pada buah hatiku yang nun jauh ku tinggal di sana. Di kota tercintaku, Yogyakarta. Yang kutinggalkan demi sejumput asa, di kota yang tak lagi dingin, Malang. Si kecilku yang saat ini tengah berusia 2 tahun 10 bulan, tengah menggemaskan selau menggelitik dengan celoteh khasnya. Dengan bahasa Jawa campur bahasa Indonesia kadang diselingi dengan sekelumit bahasa inggris dalam tutur katanya. Dalam setiap telfonnya selalu tak lupa menyelipkan kata "ayo..jemput Bunda". atau saat menyadari bahwa bundanya takkan pulang pada malam itu, dia akan berkata dengan bahasa yg khas ".Fikey antuk, Bunda pulang sendiri.". Ah ..rindu mendayu yang tak kuasa ku rayu.

Di usianya yang sedang membangun kisah cerita, menunggu dengan haru setiap detik waktu yang tak mau tahu. Dengan polosnya berbicara "Mas Bintang sekolah (kakaknya), Fikey sekolah (dia menyebut dirinya), Bunda juga sekolah...." Sontak jiwaku terpana, hatiku terjerembab, begitu polos dan penuh maknanya. Celoteh si buah hati yang dituntut untuk mandiri tanpa disadari sebelum usianya terbentuk. Berangkat tidur tanpa disuruh, gosok gigi meski kadang dengan sedikit rengutannya, mandi jika sudah merasa gerah dan minta makan dikala lapar tanpa ada rengekan. Ah..rinduku di pucuk pinus semakin memberangus.

Banyak moment yang terlewatkan, yang hanya ku dengar lewat cerita. Puluhan buku telah dia lalap habis sekedar dibuka-buka, dikomentari, dibacakan sampai tidak berbentuk. Bagaimana dengan asyiknya dia nongkrong di rak buku paling atas tanpa ada orang tahu bagaimana dia bisa sampai di rak tertinggi, sampai-sampai kakaknya teriak ketakutan melihat aksi Fikey yang tanpa takut asyik membuka buku. Kadang satu persatu buku dilempar ke lantai sambil tertawa, mendengar debugan buku yang keras dengan suara yang berbeda tergantung tebal tipisnya buku. Atau sekali waktu dia akan mengeluarkan seluruh koleksi buku, dan tertawa melihat buku (novel) yang tidak bergambar. Bagi Fikey buku yang tak bergambar dianggap sangat lucu. Aneh....kenapa buku tidak ada gambarnya. Atau sekali waktu karena belum bisa baca dia akan meminta dibacakan buku dengan bahasa jawa yang medok "Mas...bacake to..dedek ora iso je.."

Hal lainnya, Fikey suka sekali hal yang berhubungan dengan ikan. baik gambar ikan, menggambar ikan, makan ikan ataupun mancing ikan. Kesukaannya itu sering sekali di jadikan agenda merajuk, jika bosan dengan makanan yang disediakan (ah..maaf Nak, andai aku bisa selalu menemanimu). Mancing. Dia akan mengajak mancing di kolam belakang rumah, ikan sesuai requestnya, kadan "iwak cilik-cilik" atau kadang "gerameh gede". So far, permintaannya tidak ada yang aneh-aneh.

Berkaitan dengan menggambar ikan, tidak cukup lembaran buku dia jadikan media, tembok, lantai atau tempat kososng yang bisa dijadikan media pun tak kan lepas dari aksi corat-coretnya. Karena sejak bayi sudah sering ku ajak ke PAUD maka Fikey pun akhirnya masuk jadi anak didik di sana. But, meski seminggu masuk 3x, tak jarang dia hanya masuk sekali dalam seminggu, dengan alasan "dedek antuk, mau bobok" atau "dedek mau belajar di rumah" haha...benar-benar masih anak-anak. dan, it's oke tak ada yang melarang. begitulah anak-anak.

Fikey, Bintang
tetap jadi permata bagiku, bila kadang waktu terpisah oleh jarak, cinta tetap mempersatukan, hati tetap bicara, dan itu hanya sementara.


Banyak orang memandang betapa mandirinya, betapa lucunya, betapa tidak rewelnya. Ah....dia tetap anak-anak, yang akan menangis bila hatinya teriris, yang akan tergugu bila merasa sendu, yang akan terluka bila merana. Namun...dia akan terbahak bila Bundanya datang. Dia akan girang bila mendapat kasih sayang. Bila ingin menangis, biarkan menangis, bila ingin tertawa biarkan tertawa, bila ingin merajuk beri sedikit kelonggaran biar bisa bermanja, itulah anak-anak. Biarkan mereka berkembang sesuai dengan usinya.....

Hari ini aku menulis, aku merindu, aku terharu. Terima kasih untuk selalu menunggu tanpa jemu, menerima dengan lapang dada setiap keadaan, menawarkan semangat tiada tara, tanpa harus kehilangan masa kanak-kanakmu. Tetap berkembang sesuai dengan usia...

(Malang, 23.45, 29 Mei 2016)

Friday, May 27, 2016

D E A R





Dear...
Setiap malam mulai mendekap diriku, tak pernah aku berhenti dikejar dirimu dalam alam fantasiku. Sungguh... aku tak tahu mengapa mimpi itu selalu mendera diriku, sepertinya aku berjalan diatas mimpi yang tak pernah aku tahu apa penyebabnya. Kadang, aku begitu merindukan bayangmu, kadang aku membencinya, kadang aku merasa terganggu, kadang pula aku merasa tertolong oleh fantasi itu. Aku tak sempat lagi mendefinisikan apa dan bagaimana bisa terjadi, semua mengalir begitu saja. Seakan tak pernah memberi kesempatan padaku untuk berfikir. Apa sebenarnya yang Tuhan kehendaki, sedang bercandakah Tuhan dengan aku, atau sedang iseng, ataukah Tuhan sentimen dengan aku. Ah...sungguh maha rahasia Tuhan itu.

Dear...
Pernah, engkau yang hadir dalam mimpi-mimpi itu menghadirkan asa, pernah juga dia memberikan peringatan, dan kadang bercerita tentang sesuatu yang tak pernah ku mengerti. Senyum santunmu pun kadang mengganggu ketegaranku. Aku juga tak pernah tahu mengapa angkau seperti sanggup membawa aku meniti hari-hari yang nampak gelap didepanku. Seakan engkau membuka jalan, memberikan sinar yang sanggup menjadi lilin dalam kegelapan.

Dear....
Aku ingin tahu, pernahkah dia yang datang dalam alam fantasiku memimpikan hal yang sama? Sungguh aku ingin tahu.

Dear...
Aku tak tahu apakah malam ini engkau akan hadir kembali dalam alam fantasiku atau tidak. Yang jelas kehadiranmu cukup membuat aku semakin jauh terseret dalam alam fatamorgana. Tragis memang. Tapi aku tak tahu lagi bagaimana diri ini harus melangkah. Melewati lorong panjang yang penuh misteri. Engkau seperti membayangi setiap langkahku, dan aku dipaksa untuk melewatinya. Pernahkah engkau berfikir bahwa itu teramat mempengaruhi alam fikiranku? Sengajakah engkau melakukan ini. Ironis...

Dear....
Apa sebenarnya yang kau mau dari aku? Sebuah kejujurankah ataukah sebuah kemunafikan. Malam ini engkau datang, kemarin engkau muncul, dulupun kau muncul akankah lusa engkau muncul juga? Apakah kau akan hanya membuai aku dalam setiap mimpi yang tak pernah kutahu apa penyebabnya.

Dear...
Mengapa engkau hanya berani muncul dalam setiap lelapku, tak beranikah kau muncul dalam sinar matahari yang terang, atau kau (malu) enggan mengakuinya. Sebegitu pengecutnyakah engkau, sehingga engkau sembunyikan dirimu dalam pekatnya malam. Atau sengajakah engkau menutupi kata hatimu yang tak pernah berani mengakui sebuah kejujuran hati nurani. Begitu teganya engkau menyiksa aku dan begitu tak berperasaannnya engkau pada dirimu sendiri.

Dear...
Aku benar-benar gila dengan keadaan ini. Aku nggak tahu apa yang terjadi, yang jelas mimpi itu hadir seperti dikendalikan. Irrasional tapi memang ada. Gila tapi kenyataan. Aneh. Seaneh orang-orang yang berada didekatku yang selalu mengajak aku berfikir menatap masa depan dan mengusik masa lalu.

Dear....
Tunjukkan dirimu dalam alam nyata bukan hanya mimpi.

Dear....
Berjuta-juta kata yang kembali kutulis mewakili kegagalanku menyapa mimpiku. Mimpi yang tak kutahu apa makna yang terkandung didalamnya. Mimpi yang telah mengkristal menjadi untaian nada yang menemani setiap lelapku. Duh...engkau yang selalu berfantasi dalam lukisan tanpa lorong, sempurnakanlah impian itu dalam realitamu.

Dear....
Nada-nada sumbang mewakili jeritan hatiku, yang mengadu dengan gemas dan mengeluh tanpa santun. Kadang aku tergoda untuk turun meramaikan alam fantasi itu sendiri, tapi sanggupkah aku berjalan dengan pongah dan angkuh. Sedangkan yang menyapaku dalam lelap lebih angkuh dan sombong.apakah ini benar-benar mimpi yang tak bermakna? Ataukah sinopsis dari sebuah kehidupan yang terkubur dalam dimensi yang lain. Ataukah seuntai sinar yang tak sengaja turun menyapa aku. Begitu indahnya rahasia kehidupan ini.

Dear....
Pernah kunikmati mimpi ini sebagai katarsis dari ketidakmampuan dan kuyakini sebagai petunjuk tanpa pesan. Aneh memang. Begitu kerdilnyakah aku sehingga terbuai sesuatu yang penuh teka-teki. Sering juga kuanggap mimpi ini sebagai balasan kasih Tuhan pada diriku. Dan aku yakin inilah keagungan Tuhan yang tak ada duanya.

Dear...
Inilah mimpi kita. Mimpi yang memepertemukan kita dalam dimensi yang lain setelah kita bertemu dalam dimensi lelap. Kau ada karena mimpi dan mimpi ada karena engkau.

Dear...

(selayang th 2000, Yogya)

Tuesday, May 24, 2016

Celoteh Senja

Bila senja dalam temaram petang tlah tiba
Berurai air mata camar yang melayang tak tentu arah
Kilatan cahaya berbalik melesat selaksa auriga malam
Tercabik, terkoyak, terhentak, terperanjat dan terkapar tak berdaya,
Bila malam tiba tak disambut bulan merona
Bintang pun enggan berdamai dengan mega yang melayang
Biar saja hujan datang menemani luka
Biar saja hujan beramai dengan tanah yang tak lagi basah
Bila sajar fajar menyambut dengan suka dan tertawa
Embun pagi akan tertawa dan tertawa ceria
Bila saja pagi merekah mentari ronanya
Murai pagi bersiul-siul nan gembira
          Selalu
          Setiap waktu
          Sepanjang masa
          Selaksa asa
          Matahari tak pernah ingkar janji
          Seperti matahari hati menanti
          Seperti fajar hasrat berharap
          Seperti malam jiwa meratap
          Sampai nanti
          Di penghujung rindu

(senja di kota Malang, 24 Mei 2016)