Aku menulis ini dengan derai air mata, merasakan betapa rindunya aku pada buah hatiku yang nun jauh ku tinggal di sana. Di kota tercintaku, Yogyakarta. Yang kutinggalkan demi sejumput asa, di kota yang tak lagi dingin, Malang. Si kecilku yang saat ini tengah berusia 2 tahun 10 bulan, tengah menggemaskan selau menggelitik dengan celoteh khasnya. Dengan bahasa Jawa campur bahasa Indonesia kadang diselingi dengan sekelumit bahasa inggris dalam tutur katanya. Dalam setiap telfonnya selalu tak lupa menyelipkan kata "ayo..jemput Bunda". atau saat menyadari bahwa bundanya takkan pulang pada malam itu, dia akan berkata dengan bahasa yg khas ".Fikey antuk, Bunda pulang sendiri.". Ah ..rindu mendayu yang tak kuasa ku rayu.
Di usianya yang sedang membangun kisah cerita, menunggu dengan haru setiap detik waktu yang tak mau tahu. Dengan polosnya berbicara "Mas Bintang sekolah (kakaknya), Fikey sekolah (dia menyebut dirinya), Bunda juga sekolah...." Sontak jiwaku terpana, hatiku terjerembab, begitu polos dan penuh maknanya. Celoteh si buah hati yang dituntut untuk mandiri tanpa disadari sebelum usianya terbentuk. Berangkat tidur tanpa disuruh, gosok gigi meski kadang dengan sedikit rengutannya, mandi jika sudah merasa gerah dan minta makan dikala lapar tanpa ada rengekan. Ah..rinduku di pucuk pinus semakin memberangus.
Banyak moment yang terlewatkan, yang hanya ku dengar lewat cerita. Puluhan buku telah dia lalap habis sekedar dibuka-buka, dikomentari, dibacakan sampai tidak berbentuk. Bagaimana dengan asyiknya dia nongkrong di rak buku paling atas tanpa ada orang tahu bagaimana dia bisa sampai di rak tertinggi, sampai-sampai kakaknya teriak ketakutan melihat aksi Fikey yang tanpa takut asyik membuka buku. Kadang satu persatu buku dilempar ke lantai sambil tertawa, mendengar debugan buku yang keras dengan suara yang berbeda tergantung tebal tipisnya buku. Atau sekali waktu dia akan mengeluarkan seluruh koleksi buku, dan tertawa melihat buku (novel) yang tidak bergambar. Bagi Fikey buku yang tak bergambar dianggap sangat lucu. Aneh....kenapa buku tidak ada gambarnya. Atau sekali waktu karena belum bisa baca dia akan meminta dibacakan buku dengan bahasa jawa yang medok "Mas...bacake to..dedek ora iso je.."
Hal lainnya, Fikey suka sekali hal yang berhubungan dengan ikan. baik gambar ikan, menggambar ikan, makan ikan ataupun mancing ikan. Kesukaannya itu sering sekali di jadikan agenda merajuk, jika bosan dengan makanan yang disediakan (ah..maaf Nak, andai aku bisa selalu menemanimu). Mancing. Dia akan mengajak mancing di kolam belakang rumah, ikan sesuai requestnya, kadan "iwak cilik-cilik" atau kadang "gerameh gede". So far, permintaannya tidak ada yang aneh-aneh.
Berkaitan dengan menggambar ikan, tidak cukup lembaran buku dia jadikan media, tembok, lantai atau tempat kososng yang bisa dijadikan media pun tak kan lepas dari aksi corat-coretnya. Karena sejak bayi sudah sering ku ajak ke PAUD maka Fikey pun akhirnya masuk jadi anak didik di sana. But, meski seminggu masuk 3x, tak jarang dia hanya masuk sekali dalam seminggu, dengan alasan "dedek antuk, mau bobok" atau "dedek mau belajar di rumah" haha...benar-benar masih anak-anak. dan, it's oke tak ada yang melarang. begitulah anak-anak.
Fikey, Bintang
tetap jadi permata bagiku, bila kadang waktu terpisah oleh jarak, cinta tetap mempersatukan, hati tetap bicara, dan itu hanya sementara.
Banyak orang memandang betapa mandirinya, betapa lucunya, betapa tidak rewelnya. Ah....dia tetap anak-anak, yang akan menangis bila hatinya teriris, yang akan tergugu bila merasa sendu, yang akan terluka bila merana. Namun...dia akan terbahak bila Bundanya datang. Dia akan girang bila mendapat kasih sayang. Bila ingin menangis, biarkan menangis, bila ingin tertawa biarkan tertawa, bila ingin merajuk beri sedikit kelonggaran biar bisa bermanja, itulah anak-anak. Biarkan mereka berkembang sesuai dengan usinya.....
Hari ini aku menulis, aku merindu, aku terharu. Terima kasih untuk selalu menunggu tanpa jemu, menerima dengan lapang dada setiap keadaan, menawarkan semangat tiada tara, tanpa harus kehilangan masa kanak-kanakmu. Tetap berkembang sesuai dengan usia...
(Malang, 23.45, 29 Mei 2016)
Sunday, May 29, 2016
Friday, May 27, 2016
D E A R
Dear...
Setiap
malam mulai mendekap diriku, tak pernah aku berhenti dikejar dirimu dalam alam
fantasiku. Sungguh... aku tak tahu mengapa mimpi itu selalu mendera diriku,
sepertinya aku berjalan diatas mimpi yang tak pernah aku tahu apa penyebabnya.
Kadang, aku begitu merindukan bayangmu, kadang aku membencinya, kadang aku
merasa terganggu, kadang pula aku merasa tertolong oleh fantasi itu. Aku tak
sempat lagi mendefinisikan apa dan bagaimana bisa terjadi, semua mengalir
begitu saja. Seakan tak pernah memberi kesempatan padaku untuk berfikir. Apa
sebenarnya yang Tuhan kehendaki, sedang bercandakah Tuhan dengan aku, atau
sedang iseng, ataukah Tuhan sentimen dengan aku. Ah...sungguh maha rahasia
Tuhan itu.
Dear...
Pernah,
engkau yang hadir dalam mimpi-mimpi itu menghadirkan asa, pernah juga dia
memberikan peringatan, dan kadang bercerita tentang sesuatu yang tak pernah ku
mengerti. Senyum santunmu pun kadang mengganggu ketegaranku. Aku juga tak
pernah tahu mengapa angkau seperti sanggup membawa aku meniti hari-hari yang
nampak gelap didepanku. Seakan engkau membuka jalan, memberikan sinar yang
sanggup menjadi lilin dalam kegelapan.
Dear....
Aku
ingin tahu, pernahkah dia yang datang dalam alam fantasiku memimpikan hal yang
sama? Sungguh aku ingin tahu.
Dear...
Aku
tak tahu apakah malam ini engkau akan hadir kembali dalam alam fantasiku atau
tidak. Yang jelas kehadiranmu cukup membuat aku semakin jauh terseret dalam
alam fatamorgana. Tragis memang. Tapi aku tak tahu lagi bagaimana diri ini
harus melangkah. Melewati lorong panjang yang penuh misteri. Engkau seperti
membayangi setiap langkahku, dan aku dipaksa untuk melewatinya. Pernahkah
engkau berfikir bahwa itu teramat mempengaruhi alam fikiranku? Sengajakah
engkau melakukan ini. Ironis...
Dear....
Apa
sebenarnya yang kau mau dari aku? Sebuah kejujurankah ataukah sebuah
kemunafikan. Malam ini engkau datang, kemarin engkau muncul, dulupun kau muncul akankah
lusa engkau muncul juga? Apakah kau akan hanya membuai aku dalam setiap mimpi
yang tak pernah kutahu apa penyebabnya.
Dear...
Mengapa
engkau hanya berani muncul dalam setiap lelapku, tak beranikah
kau muncul dalam sinar matahari yang terang, atau kau (malu) enggan mengakuinya. Sebegitu
pengecutnyakah engkau, sehingga engkau sembunyikan dirimu dalam pekatnya malam.
Atau sengajakah engkau menutupi kata hatimu yang tak pernah berani mengakui
sebuah kejujuran hati nurani. Begitu teganya engkau menyiksa aku dan begitu tak
berperasaannnya engkau pada dirimu sendiri.
Dear...
Aku
benar-benar gila dengan keadaan ini. Aku nggak tahu apa yang terjadi, yang
jelas mimpi itu hadir seperti dikendalikan. Irrasional tapi memang ada. Gila
tapi kenyataan. Aneh. Seaneh orang-orang yang berada didekatku yang selalu
mengajak aku berfikir menatap masa depan dan mengusik masa lalu.
Dear....
Tunjukkan
dirimu dalam alam nyata bukan hanya mimpi.
Dear....
Berjuta-juta
kata yang kembali kutulis mewakili kegagalanku menyapa mimpiku. Mimpi yang tak
kutahu apa makna yang terkandung didalamnya. Mimpi yang telah mengkristal
menjadi untaian nada yang menemani setiap lelapku. Duh...engkau yang selalu
berfantasi dalam lukisan tanpa lorong, sempurnakanlah impian itu dalam
realitamu.
Dear....
Nada-nada
sumbang mewakili jeritan hatiku, yang mengadu dengan gemas dan mengeluh tanpa
santun. Kadang aku tergoda untuk turun meramaikan alam fantasi itu sendiri,
tapi sanggupkah aku berjalan dengan pongah dan angkuh. Sedangkan yang menyapaku
dalam lelap lebih angkuh dan sombong.apakah ini benar-benar mimpi yang tak
bermakna? Ataukah sinopsis dari sebuah kehidupan yang terkubur dalam dimensi
yang lain. Ataukah seuntai sinar yang tak sengaja turun menyapa aku. Begitu
indahnya rahasia kehidupan ini.
Dear....
Pernah
kunikmati mimpi ini sebagai katarsis dari ketidakmampuan dan kuyakini sebagai
petunjuk tanpa pesan. Aneh memang. Begitu kerdilnyakah aku sehingga terbuai
sesuatu yang penuh teka-teki. Sering juga kuanggap mimpi ini sebagai balasan
kasih Tuhan pada diriku. Dan aku yakin inilah keagungan Tuhan yang tak ada
duanya.
Dear...
Inilah
mimpi kita. Mimpi yang memepertemukan kita dalam dimensi yang lain setelah
kita bertemu dalam dimensi lelap. Kau ada karena mimpi dan mimpi ada karena
engkau.
Dear...
(selayang th 2000, Yogya)
Tuesday, May 24, 2016
Celoteh Senja
Bila senja dalam temaram petang tlah tiba
Berurai air mata camar yang melayang tak tentu arah
Kilatan cahaya berbalik melesat selaksa auriga malam
Tercabik, terkoyak, terhentak, terperanjat dan terkapar tak berdaya,
Bila malam tiba tak disambut bulan merona
Bintang pun enggan berdamai dengan mega yang melayang
Biar saja hujan datang menemani luka
Biar saja hujan beramai dengan tanah yang tak lagi basah
Bila sajar fajar menyambut dengan suka dan tertawa
Embun pagi akan tertawa dan tertawa ceria
Bila saja pagi merekah mentari ronanya
Murai pagi bersiul-siul nan gembira
Selalu
Setiap waktu
Sepanjang masa
Selaksa asa
Matahari tak pernah ingkar janji
Seperti matahari hati menanti
Seperti fajar hasrat berharap
Seperti malam jiwa meratap
Sampai nanti
Di penghujung rindu
(senja di kota Malang, 24 Mei 2016)
Berurai air mata camar yang melayang tak tentu arah
Kilatan cahaya berbalik melesat selaksa auriga malam
Tercabik, terkoyak, terhentak, terperanjat dan terkapar tak berdaya,
Bila malam tiba tak disambut bulan merona
Bintang pun enggan berdamai dengan mega yang melayang
Biar saja hujan datang menemani luka
Biar saja hujan beramai dengan tanah yang tak lagi basah
Bila sajar fajar menyambut dengan suka dan tertawa
Embun pagi akan tertawa dan tertawa ceria
Bila saja pagi merekah mentari ronanya
Murai pagi bersiul-siul nan gembira
Selalu
Setiap waktu
Sepanjang masa
Selaksa asa
Matahari tak pernah ingkar janji
Seperti matahari hati menanti
Seperti fajar hasrat berharap
Seperti malam jiwa meratap
Sampai nanti
Di penghujung rindu
(senja di kota Malang, 24 Mei 2016)
Tuesday, March 8, 2016
obrolan mom and son
Sebenarnya saya kurang tertarik untuk ikut membahas tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender). Namun sebuah pertanyaan menggelitik nurani. karena pernyataan sekaligus pertanyaan dari anak kelas 5 yang notabene adalah anak saya sendiri (usia 11 tahun). Pertanyaan yang membuat saya sejenak tercenung. Betapa informasi tentang LGBT begitu terekspose sekali sehingga dengan mudahnya sampai ke telinga anak-anak. Pertanyaan yang terkesan sepele "bunda, di Amerika dan Australia laki-laki boleh menikah dengan laki-laki ya?"
Tapi ini membutuhkan jawaban panjang lebar bukan sekedar YA atau TIDAK.
Baiklah saya disini tidak akan membahas LGBT, karena sudah banyak sekali yang membahasnya. Kembali ke pertanyaan diatas. Saya tidak langsung menjawabnya, tetapi balik bertanya. "Menurut Mas bagaimana? Bolehkah?" Spontan dia menjawab"Tidak boleh bunda...! Laki-laki menikah dengan perempuan."
Setidaknya saya lega dengan cara pandangnya, jawaban inilah yang akan menghantarkan saya pada penjelasan dan pemahaman apa itu hidup. Akhirnya sore itu kami diskusikan tentang apa itu LGBT, penyakit sosial, kelainan jiwa, gangguan psikologis. Tentu dengan bahasa yang dapat diterima oleh anak seusia dia. Dan akhirnya saya mengetahui betapa pengetahuan anak seusia dia (anakku) sudah begitu luasnya. Karena di tahu saya lulusan Psikologi dia mengajukan pertanyaan yang banyak tentang kepribadian ganda, psichozophrenia, apa itu gangguan jiwa, ganggua psikologis dan bahkan saya yang tak kalah kagetnya ketika dia mengajukan pertanyaan dengan istilah ilmu psikologi, "apa itu obsesive compulsive disorder?
Saya terheran-heran sebagai orang tua kemana saja saya selama ini, sampai tidak tahu perkembangan anak yang begitu dahsyat. Ya, karena suatu sebab memaksa kami terpisah untuk sementara memang membuat anak-anak menjadi lebih mandiri dan matang dengan anak seusianya. Meskipun secara berpikir dia masih tampak kekanak-kanakan akan tetapi dari segi pengetahuan seperti sebuah buku novel.
Satu hal yang membuat saya senang adalah ketika anak mau mendiskusikan hal-hal yang dia tidak pahami ke orang tua. Dia mau terbuka tentang pengetahuan yang memang ia ingin ketahui dan mencari jawaban ke orang yang tepat. Saya membayangkan bagaimana seandainya dia menanyakan ke saya atau ke siapapun yang tepat, tapi mencari tahu jawaban ke orang yang tidak tepat atau bahkan mencari jawaban sendiri tanpa mendapatkan bimbingan.
So, sebagai orang tua kita memang harus cerdas. memposisikan sebagai orang tua, teman, tempat curhat, tempat cerita, tempat anak mengadu dan tempat anak menimba ilmu. Sekaligus tempat memupuk religiusitas. Karena anak-anak semakin kritis. saat pertanyaan diajukan maka kita harus siap dengan jawaban yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak.
And then, anak-anak kita dibentuk bukanlah karena apa mau kita, tapi apa yang emang pas buat anak. anak merasa nyaman dan tidak keluar jalur. pendidikan agama menjadi satu cara terbaik untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi yang baik. Kita para orang tua menjadi garda terdepan, jangan terlalu cepat menyimpulkan lingkungan menjadi penyebab setiap kesalahan dari anak.
Pesan yang ingin saya sampaikan dari cerita diatas adalah, kenalilah anak kita dan ajaklah berkomunikasi yang aktif. Komunikasi dua arah yang akan menjadikan kita dekat dengan anak-anak kita. Sedikit waktu bila kita memberikan dengan kualitas yang bagus akan membuat anak dekat dengan kita.
Pada akhirnya, bahagialah dengan anak-anak kita titipan yang kuasa. Karena tidak semua orang mendapatkan anugrah seperti kita. Salam..
Tapi ini membutuhkan jawaban panjang lebar bukan sekedar YA atau TIDAK.
Baiklah saya disini tidak akan membahas LGBT, karena sudah banyak sekali yang membahasnya. Kembali ke pertanyaan diatas. Saya tidak langsung menjawabnya, tetapi balik bertanya. "Menurut Mas bagaimana? Bolehkah?" Spontan dia menjawab"Tidak boleh bunda...! Laki-laki menikah dengan perempuan."
Setidaknya saya lega dengan cara pandangnya, jawaban inilah yang akan menghantarkan saya pada penjelasan dan pemahaman apa itu hidup. Akhirnya sore itu kami diskusikan tentang apa itu LGBT, penyakit sosial, kelainan jiwa, gangguan psikologis. Tentu dengan bahasa yang dapat diterima oleh anak seusia dia. Dan akhirnya saya mengetahui betapa pengetahuan anak seusia dia (anakku) sudah begitu luasnya. Karena di tahu saya lulusan Psikologi dia mengajukan pertanyaan yang banyak tentang kepribadian ganda, psichozophrenia, apa itu gangguan jiwa, ganggua psikologis dan bahkan saya yang tak kalah kagetnya ketika dia mengajukan pertanyaan dengan istilah ilmu psikologi, "apa itu obsesive compulsive disorder?
Saya terheran-heran sebagai orang tua kemana saja saya selama ini, sampai tidak tahu perkembangan anak yang begitu dahsyat. Ya, karena suatu sebab memaksa kami terpisah untuk sementara memang membuat anak-anak menjadi lebih mandiri dan matang dengan anak seusianya. Meskipun secara berpikir dia masih tampak kekanak-kanakan akan tetapi dari segi pengetahuan seperti sebuah buku novel.
Satu hal yang membuat saya senang adalah ketika anak mau mendiskusikan hal-hal yang dia tidak pahami ke orang tua. Dia mau terbuka tentang pengetahuan yang memang ia ingin ketahui dan mencari jawaban ke orang yang tepat. Saya membayangkan bagaimana seandainya dia menanyakan ke saya atau ke siapapun yang tepat, tapi mencari tahu jawaban ke orang yang tidak tepat atau bahkan mencari jawaban sendiri tanpa mendapatkan bimbingan. So, sebagai orang tua kita memang harus cerdas. memposisikan sebagai orang tua, teman, tempat curhat, tempat cerita, tempat anak mengadu dan tempat anak menimba ilmu. Sekaligus tempat memupuk religiusitas. Karena anak-anak semakin kritis. saat pertanyaan diajukan maka kita harus siap dengan jawaban yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak.
And then, anak-anak kita dibentuk bukanlah karena apa mau kita, tapi apa yang emang pas buat anak. anak merasa nyaman dan tidak keluar jalur. pendidikan agama menjadi satu cara terbaik untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi yang baik. Kita para orang tua menjadi garda terdepan, jangan terlalu cepat menyimpulkan lingkungan menjadi penyebab setiap kesalahan dari anak.
Pesan yang ingin saya sampaikan dari cerita diatas adalah, kenalilah anak kita dan ajaklah berkomunikasi yang aktif. Komunikasi dua arah yang akan menjadikan kita dekat dengan anak-anak kita. Sedikit waktu bila kita memberikan dengan kualitas yang bagus akan membuat anak dekat dengan kita.
Pada akhirnya, bahagialah dengan anak-anak kita titipan yang kuasa. Karena tidak semua orang mendapatkan anugrah seperti kita. Salam..
Tuesday, January 12, 2016
Usia Kronologis vs Usia Mental?
”You never know how strong you are until being strong is the ONLY option you have left"
(Anda tidak pernah tahu seberapa kuat diri Anda sampai SATU-SATUnya pilihan tersisa yang Anda miliki adalah menjadi kuat)
ketika menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dan menjadi tua adalah sebuah kepastian.
sering kita melihat betapa orang kadang tidak mencerminkan usia sebenarnya. terkadang ada orang yang masih muda akan tetapi memiliki cara berfikir, sikap dan perilaku lebih dewasa dari umurnya, sebaliknya kadang kita melihat orang yang sudah dewasa (kalau tidak mau dikatakan muda) akan tetapi memiliki cara berfikir, sikap dan perilaku yang masih kekanak-kanakan. lalu pertanyaannnya adalah "Why?"
usia kronologis merupakan usia seseorang yang dimulai dari saat kelahiran sampai dengan waktu penghitungan.inilah patokan umum usia seseorang.jika anak ditanya berapa usisnya? usia kronologislah jawabannya, misalnya 6 tahun. usia mental adalah perhitungan usia yang didapatkan dari taraf kemampuan mental seseorang. misalnya anak usia 7 tahun bicaranya belum lancar seperti anak usia 3 tahun, berarti usia mentalnya 3 tahun.
dalam mendidik anak usia kronologis maupun mental perlu diperhatikan. untuk mengetahui apakah perkembangan fisik maupun mentalnya berjalan normal atau tidak.jika terjadi keterlambatan maka akan segera diketahui dan segera dicarikan solusinya. demikian juga bila anak mengalami percepatan perkembangan orang tua bisa melakukan simulasi dan arahan yang tepat. hal ini harus diperhatikan agar tumbuh kembang anak dapat berjalan secara optimal, dan untuk mengatasi gangguan perkembangan sedini mungkin.
usia mental bisa maju mundur dari usia kronologis. hal ini sifatnya individua,l masing-masing individu berbeda. penyebabnya bisa dari faktor genetik maupun faktor gizi (sejak dari kandungan). hal lain yang berpengaruh adalah pola asuh. anak yang sejak kecil terbiasa diberi kesempatan mengemukakan pendapat, dihargai setiap usahanya dalam belajar sesuatu, akan membuat anak belajar lebih giat. saat masih bayi jika distimulus diajak komunikasi sejak dari kandungan akan berkembang dengan baik kemampuan verbalnya.
jadi, hal ini tidak hanya terlihat pada anak-anak. pada orang dewasa pun sama. coba tengok, kadang kita lihat sendiri orang yang sudah dewasa (tua) secara usia kronologis akan tetapi bertindak kekanak-kanakan, hal ini bukan tidak mungkin secara usi mental memang masih kanak-kanak. usia mental pun berhubungan dengan kecerdasan. orang yang mampu berfikir tentang makna dan hakikat hidup secara mendalam dapat dikatakan orang tersebut cerdas dan memiliki usia mental yang tinggi. orang dengan usia mental tinggi, tidak mudah menyerah meski mengalami banyak kesukaran. dan akan berusaha melewati "badai yang menghadang". berbeda dengan yang usia mentalnya rendah cenderung mudah marah, depresi dan putus asa dan kurang mampu menguasai emosinya.
mereka yang berbeda secara usia mental akan berbeda cara memandang suatu 'masalah'dan cara "memperjuangkan sesuatu".
.......so, tetap semangat!!! keep spirit and Ganbatte!!!
usia mental bisa maju mundur dari usia kronologis. hal ini sifatnya individua,l masing-masing individu berbeda. penyebabnya bisa dari faktor genetik maupun faktor gizi (sejak dari kandungan). hal lain yang berpengaruh adalah pola asuh. anak yang sejak kecil terbiasa diberi kesempatan mengemukakan pendapat, dihargai setiap usahanya dalam belajar sesuatu, akan membuat anak belajar lebih giat. saat masih bayi jika distimulus diajak komunikasi sejak dari kandungan akan berkembang dengan baik kemampuan verbalnya.
jadi, hal ini tidak hanya terlihat pada anak-anak. pada orang dewasa pun sama. coba tengok, kadang kita lihat sendiri orang yang sudah dewasa (tua) secara usia kronologis akan tetapi bertindak kekanak-kanakan, hal ini bukan tidak mungkin secara usi mental memang masih kanak-kanak. usia mental pun berhubungan dengan kecerdasan. orang yang mampu berfikir tentang makna dan hakikat hidup secara mendalam dapat dikatakan orang tersebut cerdas dan memiliki usia mental yang tinggi. orang dengan usia mental tinggi, tidak mudah menyerah meski mengalami banyak kesukaran. dan akan berusaha melewati "badai yang menghadang". berbeda dengan yang usia mentalnya rendah cenderung mudah marah, depresi dan putus asa dan kurang mampu menguasai emosinya.
mereka yang berbeda secara usia mental akan berbeda cara memandang suatu 'masalah'dan cara "memperjuangkan sesuatu".
.......so, tetap semangat!!! keep spirit and Ganbatte!!!
Thursday, November 26, 2015
Satu dua jiwa berkeliaran
Satu dua jiwa berkeliaran tak tentu arah,
Diantara duri perdu yang tak lagi ramah,
Melihat tanah yang semakin tak lagi basah,
melihat darah yang tak lagi merah,
Satu dua jiwa berkeliaran melawan rimba,
Hukum mana lagi yang masih berpihak,
Semua seperti fatamorgana,
Bagai hidup di dua dunia yang berbeda,
Bagai rapuh dilalap anai-anai,
Satu dua jiwa berkeliaran melawan rasa,
Yang tak lagi ada bedanya,
Yang tak lagi berpijak dikaki yang sama
Yang tak lagi mampu menggunakan logika,
Yang tak lagi sembunyi dari nestapa,
Satu dua jiwa berkeliaran dengan angan dikepala,
Menunggu cerita yang dibuat dalam dongeng,
Menunggu cerita yang ditebar dalam kisah nyata,
Menunggu harap yang tak pernah pudar.
Malang, dipenghujung malam
Sunday, November 15, 2015
Biarkan Waktu
hamparan waktu yang tak kembali,
hanya bisa mengais bara luka,
di sini di setiap serpihan hati,
terkoyak kembali di fantasi yang terpatri,
ada luka ada jiwa ada hati,
terbunuh dalam sepi dalam rindu,
lalu siapa yang kan membalut,
membalut luka yang abadi,
tidak,
bukan siapa-siapa,
tidak,
bukan apa-apa,
tidak,
bukan mereka,
tidak,
bukan dia,
tidak,
bukan cinta,
tidak,
bukan benci,
tidak,
bukan harap,
waktu yang akan menjawab.
malang, pertengahan nov'15
hanya bisa mengais bara luka,
di sini di setiap serpihan hati,
terkoyak kembali di fantasi yang terpatri,
ada luka ada jiwa ada hati,
terbunuh dalam sepi dalam rindu,
lalu siapa yang kan membalut,
membalut luka yang abadi,
tidak,
bukan siapa-siapa,
tidak,
bukan apa-apa,
tidak,
bukan mereka,
tidak,
bukan dia,
tidak,
bukan cinta,
tidak,
bukan benci,
tidak,
bukan harap,
waktu yang akan menjawab.
malang, pertengahan nov'15
Subscribe to:
Posts (Atom)

