Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, November 26, 2015

Satu dua jiwa berkeliaran

Satu dua jiwa berkeliaran tak tentu arah,

Diantara duri perdu yang tak lagi ramah, 

Melihat tanah yang semakin tak lagi basah,

melihat darah yang tak lagi merah,

Satu dua jiwa berkeliaran melawan rimba,

Hukum mana lagi yang masih berpihak,

Semua seperti fatamorgana,

Bagai hidup di dua dunia yang berbeda,

Bagai rapuh dilalap anai-anai,

Satu dua jiwa berkeliaran melawan rasa,

Yang tak lagi ada bedanya,

Yang tak lagi berpijak dikaki yang sama

Yang tak lagi mampu menggunakan logika,

Yang tak lagi sembunyi dari nestapa,

Satu dua jiwa berkeliaran dengan angan dikepala,

Menunggu cerita yang dibuat dalam dongeng,

Menunggu cerita yang ditebar dalam kisah nyata,

Menunggu harap yang tak pernah pudar.



Malang, dipenghujung malam

Sunday, November 15, 2015

Biarkan Waktu

hamparan waktu yang tak kembali,
hanya bisa mengais bara luka,
di sini di setiap serpihan hati,
terkoyak kembali di fantasi yang terpatri,
ada luka ada jiwa ada hati,
terbunuh dalam sepi dalam rindu,
lalu siapa yang kan membalut,
membalut luka yang abadi,
tidak,
bukan siapa-siapa,
tidak,
bukan apa-apa,
tidak, 
bukan mereka,
tidak,
bukan dia,
tidak,
bukan cinta,
tidak,
bukan benci, 
tidak, 
bukan harap,
waktu yang akan menjawab.  


malang, pertengahan nov'15

Wednesday, September 11, 2013

puisi (baru saja)



Baru saja

Baru saja kudengar
Carut marut dunia panggung politik di luar sana
Bedebah-bedebah berebut kekuasaan
Menari membiarkan rakyat sengsara
Memutar otak mencari kekayaan belaka
Lalu baam mereka terjatuh dalam dendam korupsi
Puih..lukalah negeri ini dalam balutan ketakberdayaan

Baru saja kudengar berita
Kabut asap yang tak lagi bersahabat
Menari-nari membumbung diangkasa
Menyebarkan aroma yang membuat sesak
Semua berfikir sesaat
Tak ada yang berusaha memahat karenanya
Mana lagi yang peduli bila hutan menghilang
Siapa lagi yang berusaha memahami tangisan bumi
Bahkan manusia lupa cara bernafas

Baru saja kubaca
Banjir telah meluluhlantakkan kenikmatan dunia
Tangis dan keluhan menyatu
Lalu berlalu dengan berebut hedonisme
Seperti kabut asap yang sesak
Ini ulah siapa?
Manusia lupa akan dirinya
Manusia lupa akan asalnya
Seenaknya saja menghancurkan peradaban
Maka banjir dimana-mana
Banjir dihati, banjir di bumi, banjir dipemikiran

Baru saja ku lihat
Bukit yang terpangkas
Habis...
Batu nan cantik tlah tertatah
Menjadi cenderamata elok
Lupa bahwa bukit pergi
Maka angin menanti
Dimana slogan penjaga alam
Rusak sudah karena nikmat sesaat
Lagi-lagi manusia...

Yogyakarta, september’13

Monday, July 8, 2013

puisi (tak tersimpul)




Tak tersimpul

Dan setan-setan itu pun mengelilinginya,
Menari-nari mengitari perempuan tanpa hati,
Pelacur dalam sejarah kelam dunia,
Konspirasi dalam air mata perempuan,
Ah…selalu menjadi obyek bukan subyek,
Mana keadilan yang selalu diteriakkan,
Sungguh … tak bisa dipercaya,
Duniamu begitu tipis,
Setipis kulit ari yang sakit bila dicubit,
Itu pun kau merasakan,
Lalu kenapa kau jadikannya pelacur dalam semalam,
Karena salah perempuan?
Lagi-lagi menjadi obyek bukan subyek,
Setan-setan pun tertawa terbahak-bahak,
Lalu berteriak-teriak kegirangan,
Kemenangan setan dalam tropi penghargaan,
O…o..o rindu setan dalam siksa di depan mata,
Susahnya membedakan dengan setan,
Belenggu yang tak lagi tersimpul
 

Magelang, 8 juli 2013

Monday, June 3, 2013

puisi



Dalam senandung rindu, Nak

Dalam senandung rindu, Nak
Kau ku kandung,
Dunia bergetar menanti hadirmu,
Kau temani ibu dalam jenjang peristiwa,
Sembilan bulan bergolak dalam rasa,
Dalam senandung rindu, Nak
Ibu timpuhkan berjuta harap,
Jiwa teguh yang tak rapuh,
Hati lapang yang tak hilang,

Dalam senandung rindu, Nak
Kau ku kandung